Lebaran Idul Adha telah berlalu, tetapi setiap perayaannya selalu membekas apalagi dengan makna pengorbanannya.Tidak seperti kebiasaan masyarakat di Indonesia merayakan hari raya Idul Adha ini dengan segala persiapan penyambutannya mulai dari menu lontong, ketupatnya sampai ke bingkisan-bingkisan kue yang tertata rapih dimeja tamu. Begitu pun dengan persiapan hewan kurbannya seperti kambing, domba atau sapi yang sudah dibeli jauh-jauh hari atau pun serentak pembeliannya sehari sebelum perayaan Idul Adha.
Berbeda dengan kondisi di Qatar ini, suasana lebaran tidak begitu terlihat keistimewaaanya seperti halnya perasaan sumringah tersebut di atas, hanya dirasakan perbedaanya sangat ramai di tempat-tempat perbelanjaan saja, tidak ada gemuruh, suara bedug ataupun pawai-pawai gema takbir lainnya yang terdengar ataupun terlihat. Mungkin karena budaya yang membedakannya.Budaya kental kita ini dalam penyambutan hari raya yang dianggap tepat sebagai momen silatutrahim, sudah mulai dikobarkan sejak beberapa tahun yang lalu.
Kedutaan RI yang merupakan pusat berkumpul dan hala-bihalalnya masyarakat Indonesia tetap menjadi primadona sebagai tempat berjibaku dan memadu rindu semua masayarakat Indonesia se-Qatar. Apalagi dengan diselenggarakannya bazar bermacam aroma makanan khas Indonesia menjadikannya 'rasa' ini seolah berada di kampung halaman sendiri.Tak ketinggalan masyarakat medical yang tergabung dalam ikatan Indomediqa dan INNA-Q meleburkan suasana haru ini kedalam berbagai kegiatan.
Persiapan acara pun digelontorkan paling tidak satu minggu sebelumnya mulai dari tempat, pembagian menu dan agendanya. Yang lebih dari ikatan kita ini adalah adanya persamaan kewajiban dan kebutuhan yang telah membalut rasa kebersamaan sesama anggotanya sehingga segala kebutuhan di setiap acaranya dapat terkoordinir dengan sempurna.Bahagia, senang, dan rasa rindu tumpah ruah ketika kami dari berbagai wilayah Qatar bertemu dan berkumpul di tempat yang telah ditentukan. Cornich yang bagi kami adalah perumpamaan sebagai rumah karuhun yang mudah dijangkau oleh semuanya telah menjadi saksi bisu makna persaudaraan ditunjang dengan suasana pantai dan berbukitan yang disertai udara winter yang segar, apalagi didukung dengan keberadaan tempat bermain anak-anak yang setidaknya dapat meredam rengekan dan teriakannya.
Ternyata perayaan ini tidak hanya sampai disitu saja, malam harinya sebahagian diantara kami ada yang melanjutkannya dengan pertandingan persahabatan badminton dengan komunitas masyarakat Indonesia lainnya, menyaksikan live show anak-anak di City Centre atau sekedar berkunjung saja.Tidak sempurna rasanya kalau lebaran dan liburan kali ini tidak disertai dengan hidangan ikan bakarnya, membiarkan anak-anak bermandikan lumpur atau merendam tubuh ini dengan asinnya air laut. Maka kami pun memutuskan untuk berlibur di Sealine pada hari kedua lebaran walau hanya dihadiri oleh beberapa keluarga saja berhubung kesibukan dan tugas dari rekan-rekan lainnya. Suasana pantai yang suhu udaranya hampir sama dengan suhu udara di Indonesia telah menyelimuti kedekatan diantara kami, ditambah dengan permainan bola pasir dan berombak ria membuat suasana pada hari itu serasa bersama dengan keluarga sendiri.

No comments:
Post a Comment